Rabu, 29 Oktober 2014

psikologi sosial

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tujuan dari psikologi da’wah adalah untuk membentuk tingkah laku dan sikap mental sesuai ajaran Islam. Dalam hubungan antara psikologi dan da’wah tentunya sangatlah terikat dengan bagaimana kehidupan sosial yang ada. Dalam kehidupan bermasyarakat tidaklah mungkin seseorang mampu hidup sendiri tanpa orang lain. Untuk itu dalam psikologi da’wah seseorang dapat dikatakan berhasil apabila telah mampu mengajak serta mengarahkan masyarakat untuk merealisasikan ke dalam kehidupan secara nyata.
Psikologi sosial adalah cabang ilmu psikologi yang meneliti dampak atau pengaruh sosial terhadap perilaku manusia. Bidang ini sangat luas, mencakup berbagai bidang studi dan beberapa disiplin ilmu. Psikologi sosial juga digunakan dalam berbagai disiplin dan industri, banyak orang memanfaatkan prinsip-prinsip psikologi sosial bahkan tanpa menyadari hal itu ketika mereka mencoba untuk mengendalikan kelompok, pengaruh pendapat seseorang, atau menjelaskan mengapa seseorang berperilaku dengan cara tertentu.
Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai psikologi sosial dan perkembangannya dalam masyarakat. Dengan harapan nantinya dapat bermanfaat bagi para mahasiswa khususnya, dan bagi perkembangan dunia pendidikan pada umumnya.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa definisi psikologi sosial?
2.      Bagaimana latar belakang timbulnya psikologi sosial?
3.      Apa dasar mempelajari psikologi sosial?
4.      Apa saja objek dan metode dalam psikologi sosial?
5.      Apa saja aliran-aliran dalam psikologi sosial?
6.      Bagaimana hubungan antara psikologi sosial dengan dakwah?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Psikologi Sosial

Dari segi etimologi psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan.[1] Psikologi juga diartikan pengetahuan atau ilmu yang mempelajari tentang perilaku organisme (manusia) dalam lingkungannya.[2] Sosial adalah sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, berkaitan dengan perilaku interpersonal atau suka menunjukkan sifat yang suka memperhatikan kepada orang lain atau umum dan sebagainya.[3] Jadi, psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku seseorang yang berhubungan dengan masyarakat secara umum.
Sedangkan, dari segi terminologi untuk memberikan gambaran mengenai hal ini, berikut adalah beberapa definisi yang diberikan oleh para ahli :[4]
Ø  Manurut Hartley dan Hartley
“Social Psichology is that branch of the sosial sciences which seeks to understand individual behavior in the context of social interaction”.
            Dari pengertian ini dapat dikemukakan bahwa Hartley dan Hartley ingin melihat perilaku individu dalam konteks interaksi sosial.
Ø  Menurut Sherif dan Sherif
“social psichologi is the scientific study of the experience and behavior of the individual in relation to social stimulus situation”
            Dari definisi ini dapat dikemukakan bahwa Sherif dan Sherif melihat perilaku individu dikaitkan dengan situasi sosial.
Ø  Menurut Myers
Social psichology is the scientific study of how people think about, influence, and relate to one another
Di sini dikemukakan bahwa dia melihat tentang bagaimana orang berfikir, pengaruh, dan berhubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan orang lain tidak dapat lepas dari situasi sosial. Apa yang dikemukaan oleh Myers lebih terperinci bila dibandingkan dengan yang dikemukakan oleh Hartley dan Sherif.
Dari pengertian-pengertian dia atas dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi sosial itu merupakan ilmu tentang perilaku individu dalam situasi sosial. Berkaitan dengan psikologi sosial ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, yaitu bahwa psikologi sosial fokusnya pada perilaku individu dan dalam kaitannya dengan situasi sosial. Dengan demikian apapun definisi mengenai psikologi sosial itu, tidak dapat lepas dari adanya situasi sosial atau interaksi sosial dan fokusnya adalah perilaku individu.
Seorang psikolog sosial melihat pada sikap, keyakinan, dan perilaku baik individu maupun kelompok. Bidang ini juga dikaji interaksi interpersonal, menganalisis cara seseorang berinteraksi dengan orang lain, baik secara tunggal atau dalam bentuk kelompok besar.[5] Psikologi sosial merupakan psikologi teoritis dan bersifat khusus.


B.     Latar Belakang Timbulnya Psikologi Sosial

Psikologi sosial mulai berkembang setelah Perang Dunia I. Kejadian ini diikuti oleh meluasnya Komunisme, depressi pada tahun 1930, munculnya Hitler, kekacauan di antara ras, Perang Dunia II, yang merangsang semua cabang-cabang ilmu sosial. Psikologi Sosial sendiri dihadapkan pada berbagai masalah yang memerlukan jawaban dan penjelasan. Masalah-masalah itu adalah masalah yang berhubungan dengan gejala-gejala kepemimipinan pendapat umum (public opinion), propaganda, prasangka sosial, perubahan sikap, komunikasi, pembuatan keputusan, hubungan ras serta konflik nilai.[6]  
Akar psikologi sosial diletakkan di akhir 1800-an, ketika psikologi sebagai suatu disiplin yang berkembang di Eropa. Ketika Perang Dunia Pertama banyak psikolog melaju ke Amerika Serikat, psikologi sosial mulai muncul sebagai suatu disiplin yang berbeda di tahun 1920. Salah satu pengaruh utama di lapangan adalah Kurt Lewin, yang disebut “bapak” psikologi sosial oleh beberapa orang, lain psikolog sosial terkenal termasuk Zimbardo, Asch, Milgram, Festinger, Ross, dan Mischel.[7]
 Kurt Lewin menjadi terkenal karena pembinaannya dalam lapangan psikologi modern yang disebut “Typological  Psychology” atau” Field Psychology”. Pokok pikiran Field Psychology adalah bahwa bagaimanapun dan bilamanapun manusia itu selalu hidup dalam suatu ‘’Field’’. Adapun yang dimaksud dengan Feild, suatu lapangan kekuatan physis maupun psychis yang senantiasa berubah menurut situasi kehidupannya. Oleh karena itu uraian mengenai tingkah laku manusia harus pula mamperhatikan kekuatan-kekuatan yang bekerja terhadapnya dalam lapangan yang berubah-ubah itu.[8] 

C.    Dasar Mempelajari Psikologi Sosial

Dalam kehidupan manusia merupakan makhluk tertinggi di antara makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. Kelebihan manusia terutama karena kecerdasan dan kemauan yang dimilikinya dan kesadaran terhadap Zat Yang Maha Tinggi/Pencipta dirinya dan seluruh alam semesta. Manusia satu-satunya makhluk yang berbudaya yang selalu berkembang ke arah yang lebih baik dan paling dapat menyesuaikan diri terhadap tuntutan alam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena ditinjau dari segi kebutuhannya, manusia adalah makhluk mono dualis artinya di samping manusia membutuhkan sesuatu untuk kelamgsungan hidupnya sebagaimana makhluk biologis yang lain, manusia juga membutuhkan hasil kebudayaan untuk pertahanan dan perkembangan hidupnya, sehinngga dapat mengembangkan dan menyempunakan hidupnya ke derajat yang lebih tinggi.
Kesemuanya itu bisa tercapai karena potensi-potensi yang dimiliki manusia, di mana potensi ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan masyarakat.
Potensi-potensi tersebut antara lain :
1.                   Kemampuan menggunakan bahasa
2.                   Adanya sikap etik
3.                   Hidup dalam 3 dimensi
Ditinjau dari sifat manusia sebagai makhluk monopluralis, yakni sebagai makhluk individuil juga sebagai makhluk sosial dan makhluk berketuhanan. Pada pokoknya tak mungkin manusia hidup sendiri tanpa adanya komunikasi dengan manusia lainnya. Dalam kehidupan bersama ini pula individu akan turut membentuk norma-norma sosial. Selain itu dalam kehidupan sosial tadi individu bukan hanya akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya, tetapi masyarakat juga membutuhkan sumbangannya.
Untuk maksud itu ilmu jiwa sosial merupakan ilmu yang sangat penting sebab ilmu jiwa sosial memberikan dasar-dasar pengertian tentang gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku ndividu dala situasi sosial, dengan demikian akan memudahkan dalam meng-approach masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan dengan sebaik-baiknya.
Di samping itu dengan mempelajari ilmu jiwa sosial, maka kita tidak akan mudah terpengaruh dan terbawa oleh situasi yang ada dalam masyarakat, tidak mudah tersugesti oleh gerakan massa yang tidak selamanya baik. Dengan bantuan ilmu ini pula memungkinkan kita untuk memecahkan suatu problema sosial secara tepat dan sistematis.[9]

D.    Objek dan Metode Psikologi Sosial

Berbicara tentang objek psikologi sosial, tidaklah terlepas dari objek psikilogi pada umumnya, sebab psikologi sosial adalah salah satu cabang dari psikologi pada umumnya. Objek psikologi adalah manusia dan kegiatan-kegiatannya. Sedangkan objek psikologi sosial adalah kekegiatan-kegiatan sosial dan gejala-gejala sosial.
Menurut Gerungan, pokok-pokok yang dibahas dalam psikologi sosial adalah :
v  Hubungan antar individu
v  Kehidupan manusia dalam komunitas sosial
v  Sifat-sifat struktur sosial atau kelompok
v  Peranan kelompok dalam perkembangan individu
v  Kepemimpinan
v  Dinamika kelompok
v  Sikap kelompok
v  Perubahan sikap sosial[10]
Metode-metode dalam psikologi sosial adalah :
·         Metode eksperimen
·         Metode survey
·         Metode observasi
·         Metode diagnostic-psychis
·         Metode sosiometri[11]

E.     Aliran-Aliran dalam Psikologi Sosial
Telah dijelaskan bahwa yang menjadi pokok pembahasan ilmu jiwa sosial  adalah tingkah laku individu dalam situasi sosial, dengan kata lain sampai di mana pengaruh lembaga atau kelompok masyarakat terhadap individu. Sebenarnya manakah yang lebih menentukan, individu menentukan kelompok masyarakat ataukah sebaliknya.
Mengenai hal ini terdapat pertentangan faham antar berbagai tokoh yang dalam garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 aliran, yakni subjektivisme dan objektivisme.
1.      Subjectivisme
Aliran ini menyatakan bahwa individulah yang membentuk masyarakat dalam segala tingkah lakunya.
2.      Objectivisme
Aliran ini mengajarkan bahwa masyarakatlah yang menentukan individu. Jadi menurut subyektivisme, faktor sosiologislah yang menentukan bukan psikologis.[12]

F.     Hubungan Antara Psikologi Sosial dengan Dakwah

Dakwah barasal dari bahasa Arab, yang berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan. Sedangkan ilmu dakwah ialah suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara, tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk mengikuti, menyetujui suatu pendapat tertentu dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai perintah Allah SWT demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Penerangan adalah salah satu dari aktivitas dakwah, penerangan mempunyai tujuan tertentu, memberikan pengertian dari terhadap orang lain mengenai suatu masalah.[13]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa aktivitas dakwah tak bisa terlepas dari adanya hubungan antara seseorang dengan orang lain, yakni antara da’i dan mad’u. Ketika seorang da’i hendak berdakwah tentu saja sangatlah memerlukan pemahaman mengenai psikologi sosial, karena dengan begitu seorang da’i akan dapat mengetahui bagaimana latar belakang sosial dan budaya, latar belakang pendidikan, bagaimana situasi sosial yang ada pada suatu masyarakat. Sehingga aktivitas dakwah dapat berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, sehingga antara da’i dan mad’u akan saling ridho. Jika dari kedua belah pihak saling ridho, maka dakwah yang dilakukan akan bermanfaat. Ridho di sini berarti, dari sisi mad’u ikhlas dan rela atas apa yang disampaikan pada masyarakat dan dari sisi mad’u rela dalam menerima segala anjuran kebaikan dari da’i kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
Di dalam Q.S. an-Nahl : 125, Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad SAW menggunakan banyak cara dalammenyampaikan misi dakwah kerasulannya. Hal tersebut karena beragamnya corak masyarakat dari dari mulai yang awam sampai dengan kaum terpelajar dan juga strata sosial yang berbeda, dalam hal tersebut tentunya juga akan dijumpai problem yang berbeda pula.[14]
Dua hal yang paling utama dalam kegiatan dakwah yaitu sikap mental yang positif yang harus dipegang oleh juru dakwah dan penyampaian informasi dakwah sebaik-baiknya.[15]Kajian psikologi, terutama dalam hal ini adalah psikologi dakwah bisa dimanfaatkan sebagai solusi untuk mengefektifkan proses dakwah. Dalam kaitannya dengan dakwah, ilmu psikologi dirasa penting guna mengetahui kejiwaann mad’u. Dengan mengetahui kondisinya, tentu da’i akan lebih bisa memilih metode yang sesuai dengan mad’u sehingga dakwah berjalan efektif. Karena kita sadari, setiap manusia, memiliki watak dan kepribadian yang berbeda, apalagi dalam komunitas sosial atau masyarakat. Dan akan menjadi aneh ketika kita menyamaratakan metode dakwah kepada macam-macam orang.
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan antara psikologi sosial dengan dakwah sangatlah erat. Karena dalam proses dakwah tidak terlepas dari latar belakang kondisi dan situasi sosial masyarakat. Dengan adanya peran psikologi sosial maka aktivitas dakwah akan berjalan lancar dan efektif.

























BAB III
KESIMPULAN

1.       psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku seseorang yang berhubungan dengan masyarakat secara umum.
2.       Psikologi sosial mulai berkembang setelah Perang Dunia I. Kejadian ini diikuti oleh meluasnya Komunisme, depressi pada tahun 1930, munculnya Hitler, kekacauan di antara ras, Perang Dunia II, yang merangsang semua cabang-cabang ilmu sosial.
3.       Dasar mempelajari psikologi sosial adalah akan memudahkan dalam meng-approach masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan dengan sebaik-baiknya. Di samping itu dengan mempelajari ilmu jiwa sosial, maka kita tidak akan mudah terpengaruh dan terbawa oleh situasi yang ada dalam masyarakat, tidak mudah tersugesti oleh gerakan massa yang tidak selamanya baik. Dengan bantuan ilmu ini pula memungkinkan kita untuk memecahkan suatu problema sosial secara tepat dan sistematis.
4.       Objek psikologi sosial adalah kekegiatan-kegiatan sosial dan gejala-gejala sosial.
5.       Dalam psikologi sosial ada 2 aliran besar, yakni subjektivisme dan objektivisme.
6.       Hubungan antara psikologi sosial dengan dakwah sangatlah erat. Karena dalam proses dakwah tidak terlepas dari latar belakang kondisi dan situasi sosial masyarakat. Dengan adanya peran psikologi sosial maka aktivitas dakwah akan berjalan lancar dan efektif.















DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,  Abu. Psikologi Sosial.  Jakarta : Rineka Cipta, 1999.
Ancok, Djamaludin dan Fuad Nasori Suroso. Psikologi Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994
Marliani, Rosleny. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia, 2010
Modul Pembelajaran Qur’an Hadits. al Hikmah KELAS XII/I. Sragen : Akik Pusaka, 2010
 Walgito, Bimo. Psikologi Sosial. Yogyakarta : Andi Offset, 1991.
Y. al-Barry, M. Dahlan dan L.Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk Istilah Ilmiah. Surabaya : Ciputat Pers, 2003.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/




[1] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 1
[2] M. Dahlan .Y. al-Barry dan L.Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk Istilah Ilmiah, (Surabaya : Ciputat Pers, 2003), 64
[3] Ibid, 726
[4] Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta : Andi Offset, 1991), 7-8
[5] http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/

[6] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 11
[7] http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/

[8] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 9-10
[9] Ibid, 12-16
[10] Rosleny Marliani, Psikologi Umum, (Bandung : Pustaka Setia, 2010), 32-37.
[11] Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 20-23.
[12] Ibid, 34-40.
[13] Modul Pembelajaran Qur’an Hadits, al Hikmah KELAS XII/I, (Sragen : Akik Pusaka, 2010), 6.
[14] Ibid, 4.
[15] Djamaludin Ancok dan Fuad Nasori Suroso, Psikologi Islam, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994), 35