BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Tujuan dari
psikologi da’wah adalah untuk membentuk tingkah laku dan sikap mental sesuai
ajaran Islam. Dalam hubungan antara psikologi dan da’wah tentunya sangatlah
terikat dengan bagaimana kehidupan sosial yang ada. Dalam kehidupan
bermasyarakat tidaklah mungkin seseorang mampu hidup sendiri tanpa orang lain.
Untuk itu dalam psikologi da’wah seseorang dapat dikatakan berhasil apabila
telah mampu mengajak serta mengarahkan masyarakat untuk merealisasikan ke dalam
kehidupan secara nyata.
Psikologi
sosial adalah cabang ilmu psikologi yang meneliti dampak atau pengaruh
sosial terhadap perilaku manusia. Bidang ini sangat luas, mencakup
berbagai bidang studi dan beberapa disiplin ilmu. Psikologi sosial juga
digunakan dalam berbagai disiplin dan industri, banyak orang memanfaatkan
prinsip-prinsip psikologi
sosial bahkan tanpa menyadari hal itu ketika mereka mencoba
untuk mengendalikan kelompok, pengaruh pendapat seseorang, atau menjelaskan
mengapa seseorang berperilaku dengan cara tertentu.
Untuk itu
dalam makalah ini akan dibahas mengenai psikologi sosial dan perkembangannya
dalam masyarakat. Dengan harapan nantinya dapat bermanfaat bagi para mahasiswa
khususnya, dan bagi perkembangan dunia pendidikan pada umumnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa
definisi psikologi sosial?
2.
Bagaimana latar belakang timbulnya psikologi sosial?
3.
Apa dasar mempelajari psikologi sosial?
4. Apa saja objek dan metode dalam psikologi sosial?
5. Apa saja aliran-aliran dalam psikologi sosial?
6. Bagaimana hubungan antara psikologi sosial dengan
dakwah?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Psikologi Sosial
Dari segi
etimologi psikologi berasal dari bahasa Yunani “psyche” yang artinya
jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan.[1]
Psikologi juga diartikan pengetahuan atau ilmu yang mempelajari tentang
perilaku organisme (manusia) dalam lingkungannya.[2] Sosial
adalah sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, berkaitan dengan perilaku
interpersonal atau suka menunjukkan sifat yang suka memperhatikan kepada orang
lain atau umum dan sebagainya.[3] Jadi,
psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku seseorang yang
berhubungan dengan masyarakat secara umum.
Sedangkan,
dari segi terminologi untuk memberikan gambaran mengenai hal ini, berikut
adalah beberapa definisi yang diberikan oleh para ahli :[4]
Ø Manurut Hartley dan Hartley
“Social Psichology is that branch of the sosial
sciences which seeks to understand individual behavior in the context of social
interaction”.
Dari
pengertian ini dapat dikemukakan bahwa Hartley dan Hartley ingin melihat
perilaku individu dalam konteks interaksi sosial.
Ø Menurut Sherif dan Sherif
“social psichologi is the scientific study of the
experience and behavior of the individual in relation to social stimulus
situation”
Dari definisi ini dapat
dikemukakan bahwa Sherif dan Sherif melihat perilaku individu dikaitkan dengan
situasi sosial.
Ø Menurut Myers
“Social psichology is the scientific study of how
people think about, influence, and relate to one another”
Di sini dikemukakan bahwa dia
melihat tentang bagaimana orang berfikir, pengaruh, dan berhubungan dengan
orang lain. Berhubungan dengan orang lain tidak dapat lepas dari situasi
sosial. Apa yang dikemukaan oleh Myers lebih terperinci bila dibandingkan
dengan yang dikemukakan oleh Hartley dan Sherif.
Dari pengertian-pengertian
dia atas dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi sosial itu merupakan ilmu
tentang perilaku individu dalam situasi sosial. Berkaitan dengan psikologi
sosial ini ada beberapa hal yang perlu dikemukakan, yaitu bahwa psikologi
sosial fokusnya pada perilaku individu dan dalam kaitannya dengan situasi
sosial. Dengan demikian apapun definisi mengenai psikologi sosial itu, tidak
dapat lepas dari adanya situasi sosial atau interaksi sosial dan fokusnya
adalah perilaku individu.
Seorang psikolog sosial melihat pada sikap,
keyakinan, dan perilaku baik individu maupun kelompok. Bidang ini juga
dikaji interaksi interpersonal, menganalisis cara seseorang
berinteraksi dengan orang lain, baik secara tunggal atau dalam bentuk kelompok
besar.[5]
Psikologi sosial merupakan psikologi teoritis dan bersifat khusus.
B.
Latar Belakang Timbulnya
Psikologi Sosial
Psikologi
sosial mulai berkembang setelah Perang Dunia I. Kejadian ini diikuti oleh
meluasnya Komunisme, depressi pada tahun 1930, munculnya Hitler, kekacauan di
antara ras, Perang Dunia II, yang merangsang semua cabang-cabang ilmu sosial.
Psikologi Sosial sendiri dihadapkan pada berbagai masalah yang memerlukan
jawaban dan penjelasan. Masalah-masalah itu adalah masalah yang berhubungan
dengan gejala-gejala kepemimipinan pendapat umum (public opinion), propaganda,
prasangka sosial, perubahan sikap, komunikasi, pembuatan keputusan, hubungan
ras serta konflik nilai.[6]
Akar psikologi sosial
diletakkan di akhir 1800-an, ketika psikologi sebagai suatu disiplin yang
berkembang di Eropa. Ketika Perang Dunia Pertama banyak psikolog melaju ke
Amerika Serikat, psikologi sosial mulai muncul sebagai suatu disiplin yang
berbeda di tahun 1920. Salah satu pengaruh utama di lapangan adalah Kurt Lewin,
yang disebut “bapak” psikologi sosial oleh beberapa orang, lain psikolog sosial
terkenal termasuk Zimbardo, Asch, Milgram, Festinger, Ross, dan Mischel.[7]
Kurt Lewin menjadi terkenal karena pembinaannya
dalam lapangan psikologi modern yang disebut “Typological Psychology” atau” Field Psychology”.
Pokok pikiran Field Psychology adalah bahwa bagaimanapun dan bilamanapun
manusia itu selalu hidup dalam suatu ‘’Field’’. Adapun yang dimaksud
dengan Feild, suatu lapangan kekuatan physis maupun psychis
yang senantiasa berubah menurut situasi kehidupannya. Oleh karena itu uraian
mengenai tingkah laku manusia harus pula mamperhatikan kekuatan-kekuatan yang
bekerja terhadapnya dalam lapangan yang berubah-ubah itu.[8]
C. Dasar
Mempelajari Psikologi Sosial
Dalam
kehidupan manusia merupakan makhluk tertinggi di antara makhluk-makhluk lain
ciptaan Tuhan. Kelebihan manusia terutama karena kecerdasan dan kemauan yang
dimilikinya dan kesadaran terhadap Zat Yang Maha Tinggi/Pencipta dirinya dan
seluruh alam semesta. Manusia satu-satunya makhluk yang berbudaya yang selalu
berkembang ke arah yang lebih baik dan paling dapat menyesuaikan diri terhadap
tuntutan alam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena ditinjau dari segi
kebutuhannya, manusia adalah makhluk mono dualis artinya di samping manusia
membutuhkan sesuatu untuk kelamgsungan hidupnya sebagaimana makhluk biologis
yang lain, manusia juga membutuhkan hasil kebudayaan untuk pertahanan dan
perkembangan hidupnya, sehinngga dapat mengembangkan dan menyempunakan hidupnya
ke derajat yang lebih tinggi.
Kesemuanya
itu bisa tercapai karena potensi-potensi yang dimiliki manusia, di mana potensi
ini mengalami proses perkembangan setelah individu itu hidup dalam lingkungan
masyarakat.
Potensi-potensi tersebut antara lain :
1.
Kemampuan menggunakan bahasa
2.
Adanya sikap etik
3.
Hidup dalam 3 dimensi
Ditinjau dari sifat manusia sebagai makhluk
monopluralis, yakni sebagai makhluk individuil juga sebagai makhluk sosial dan makhluk
berketuhanan. Pada pokoknya tak mungkin manusia hidup sendiri tanpa adanya
komunikasi dengan manusia lainnya. Dalam kehidupan bersama ini pula individu
akan turut membentuk norma-norma sosial. Selain itu dalam kehidupan sosial tadi
individu bukan hanya akan mendapat kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya,
tetapi masyarakat juga membutuhkan sumbangannya.
Untuk maksud itu ilmu jiwa sosial merupakan ilmu
yang sangat penting sebab ilmu jiwa sosial memberikan dasar-dasar pengertian
tentang gejala-gejala kejiwaan dan tingkah laku ndividu dala situasi sosial,
dengan demikian akan memudahkan dalam meng-approach masyarakat untuk
mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan dengan
sebaik-baiknya.
Di samping itu dengan mempelajari ilmu jiwa sosial,
maka kita tidak akan mudah terpengaruh dan terbawa oleh situasi yang ada dalam
masyarakat, tidak mudah tersugesti oleh gerakan massa yang tidak selamanya
baik. Dengan bantuan ilmu ini pula memungkinkan kita untuk memecahkan suatu problema
sosial secara tepat dan sistematis.[9]
D. Objek dan Metode Psikologi
Sosial
Berbicara tentang objek
psikologi sosial, tidaklah terlepas dari objek psikilogi pada umumnya, sebab
psikologi sosial adalah salah satu cabang dari psikologi pada umumnya. Objek
psikologi adalah manusia dan kegiatan-kegiatannya. Sedangkan objek psikologi
sosial adalah kekegiatan-kegiatan sosial dan gejala-gejala sosial.
Menurut Gerungan,
pokok-pokok yang dibahas dalam psikologi sosial adalah :
v Hubungan antar individu
v Kehidupan manusia dalam komunitas sosial
v Sifat-sifat struktur sosial atau kelompok
v Peranan kelompok dalam perkembangan individu
v Kepemimpinan
v Dinamika kelompok
v Sikap kelompok
v Perubahan sikap sosial[10]
Metode-metode dalam psikologi sosial adalah :
·
Metode eksperimen
·
Metode survey
·
Metode observasi
·
Metode diagnostic-psychis
·
Metode sosiometri[11]
E. Aliran-Aliran dalam
Psikologi Sosial
Telah dijelaskan bahwa yang menjadi pokok pembahasan
ilmu jiwa sosial adalah tingkah laku
individu dalam situasi sosial, dengan kata lain sampai di mana pengaruh lembaga
atau kelompok masyarakat terhadap individu. Sebenarnya manakah yang lebih
menentukan, individu menentukan kelompok masyarakat ataukah sebaliknya.
Mengenai hal ini terdapat pertentangan faham antar
berbagai tokoh yang dalam garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 aliran,
yakni subjektivisme dan objektivisme.
1.
Subjectivisme
Aliran ini
menyatakan bahwa individulah yang membentuk masyarakat dalam segala tingkah
lakunya.
2.
Objectivisme
Aliran ini
mengajarkan bahwa masyarakatlah yang menentukan individu. Jadi menurut
subyektivisme, faktor sosiologislah yang menentukan bukan psikologis.[12]
F.
Hubungan Antara Psikologi Sosial dengan Dakwah
Dakwah barasal dari bahasa Arab, yang berarti
ajakan, seruan, panggilan, undangan. Sedangkan ilmu dakwah ialah suatu ilmu
pengetahuan yang berisi cara-cara, tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian
manusia untuk mengikuti, menyetujui suatu pendapat tertentu dengan cara
bijaksana kepada jalan yang benar sesuai perintah Allah SWT demi kebahagiaan di
dunia dan di akhirat. Penerangan adalah salah satu dari aktivitas dakwah,
penerangan mempunyai tujuan tertentu, memberikan pengertian dari terhadap orang
lain mengenai suatu masalah.[13]
Dari sini dapat kita ketahui bahwa aktivitas dakwah
tak bisa terlepas dari adanya hubungan antara seseorang dengan orang lain,
yakni antara da’i dan mad’u. Ketika seorang da’i hendak berdakwah tentu saja
sangatlah memerlukan pemahaman mengenai psikologi sosial, karena dengan begitu
seorang da’i akan dapat mengetahui bagaimana latar belakang sosial dan budaya,
latar belakang pendidikan, bagaimana situasi sosial yang ada pada suatu
masyarakat. Sehingga aktivitas dakwah dapat berjalan lancar dan sesuai dengan
tujuan yang diharapkan, sehingga antara da’i dan mad’u akan saling ridho. Jika
dari kedua belah pihak saling ridho, maka dakwah yang dilakukan akan
bermanfaat. Ridho di sini berarti, dari sisi mad’u ikhlas dan rela atas apa
yang disampaikan pada masyarakat dan dari sisi mad’u rela dalam menerima segala
anjuran kebaikan dari da’i kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
Di dalam Q.S. an-Nahl : 125, Allah memerintahkan
agar Nabi Muhammad SAW menggunakan banyak cara dalammenyampaikan misi dakwah
kerasulannya. Hal tersebut karena beragamnya corak masyarakat dari dari mulai
yang awam sampai dengan kaum terpelajar dan juga strata sosial yang berbeda,
dalam hal tersebut tentunya juga akan dijumpai problem yang berbeda pula.[14]
Dua hal yang paling utama dalam kegiatan dakwah
yaitu sikap mental yang positif yang harus dipegang oleh juru dakwah dan
penyampaian informasi dakwah sebaik-baiknya.[15]Kajian
psikologi, terutama dalam hal ini adalah psikologi dakwah bisa dimanfaatkan
sebagai solusi untuk mengefektifkan proses dakwah. Dalam kaitannya dengan
dakwah, ilmu psikologi dirasa penting guna mengetahui kejiwaann mad’u. Dengan
mengetahui kondisinya, tentu da’i akan lebih bisa memilih metode yang sesuai
dengan mad’u sehingga dakwah berjalan efektif. Karena kita sadari, setiap
manusia, memiliki watak dan kepribadian yang berbeda, apalagi dalam komunitas
sosial atau masyarakat. Dan akan menjadi aneh ketika kita menyamaratakan metode
dakwah kepada macam-macam orang.
Dari paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
hubungan antara psikologi sosial dengan dakwah sangatlah erat. Karena dalam
proses dakwah tidak terlepas dari latar belakang kondisi dan situasi sosial
masyarakat. Dengan adanya peran psikologi sosial maka aktivitas dakwah akan
berjalan lancar dan efektif.
BAB III
KESIMPULAN
1.
psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang
perilaku seseorang yang berhubungan dengan masyarakat secara umum.
2.
Psikologi sosial mulai berkembang setelah Perang Dunia
I. Kejadian ini diikuti oleh meluasnya Komunisme, depressi pada tahun 1930,
munculnya Hitler, kekacauan di antara ras, Perang Dunia II, yang merangsang
semua cabang-cabang ilmu sosial.
3.
Dasar mempelajari psikologi sosial adalah akan memudahkan dalam meng-approach masyarakat
untuk mengadakan perubahan-perubahan dan pengarahan kepada suatu tujuan dengan
sebaik-baiknya. Di samping itu dengan mempelajari ilmu jiwa sosial, maka kita
tidak akan mudah terpengaruh dan terbawa oleh situasi yang ada dalam
masyarakat, tidak mudah tersugesti oleh gerakan massa yang tidak selamanya
baik. Dengan bantuan ilmu ini pula memungkinkan kita untuk memecahkan suatu
problema sosial secara tepat dan sistematis.
4.
Objek psikologi sosial adalah kekegiatan-kegiatan sosial dan
gejala-gejala sosial.
5.
Dalam psikologi sosial ada 2 aliran besar, yakni
subjektivisme dan objektivisme.
6.
Hubungan antara
psikologi sosial dengan dakwah sangatlah erat. Karena dalam proses dakwah tidak
terlepas dari latar belakang kondisi dan situasi sosial masyarakat. Dengan
adanya peran psikologi sosial maka aktivitas dakwah akan berjalan lancar dan
efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. Psikologi
Sosial. Jakarta : Rineka Cipta, 1999.
Ancok, Djamaludin dan Fuad Nasori Suroso. Psikologi Islam.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1994
Marliani, Rosleny. Psikologi Umum.
Bandung : Pustaka Setia, 2010
Modul Pembelajaran Qur’an Hadits. al
Hikmah KELAS XII/I. Sragen : Akik Pusaka, 2010
Walgito, Bimo. Psikologi Sosial. Yogyakarta
: Andi Offset, 1991.
Y. al-Barry, M. Dahlan dan L.Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk
Istilah Ilmiah. Surabaya : Ciputat Pers, 2003.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/
[1]
Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 1
[2]
M. Dahlan .Y. al-Barry dan L.Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk Istilah Ilmiah,
(Surabaya : Ciputat Pers, 2003), 64
[3]
Ibid, 726
[4]
Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta : Andi Offset, 1991), 7-8
[5]
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/
[6]
Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 11
[7]
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi-sosial/
[8]
Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 9-10
[9]
Ibid, 12-16
[10]
Rosleny Marliani, Psikologi Umum, (Bandung : Pustaka Setia, 2010),
32-37.
[11]
Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999), 20-23.
[12]
Ibid, 34-40.
[13]
Modul Pembelajaran Qur’an Hadits, al Hikmah KELAS XII/I, (Sragen : Akik Pusaka,
2010), 6.
[14]
Ibid, 4.
[15]
Djamaludin Ancok dan Fuad Nasori Suroso, Psikologi Islam, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 1994), 35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar